7 Lelaki Bersama Murobi

Ruangan mungil bercat putih mendadak ramai oleh suara tawa 7 lelaki. Suara air conditioner (AC) yang mendesah seolah mengerti apa yang terjadi di ruangan itu. Mereka larut dalam suasana riang meskipun belakangan diketahui banyak persoalan yang dihadapi oleh mereka.

Oleh Abu Hazimah Ayu Fadia

Tak banyak yang dilakukan oleh tujuh lelaki ini, di dalam ruangan berukuran kira-kira 4 kali 2 meter. Membaca dan hafalan Al-Qur’an, mendengarkan tausiah dari sang ustad, berdoa, saling tukar informasi dan menanyakan keadaan keluarga.

Aktivitas rutin ini biasa dilakukan sepekan sekali dengan hari yang telah disepakati bersama. “Tarbiyah bukan hanya kegiatan pemberian materi, tapi ada yang jauh lebih penting dariapada itu yaitu kehidupan berjamaah,” kata sang ustad.

Menurut ustad yang masih kerabat dengan Menteri Pertanian Anton Apriantono, menjelaskan, materi-materi tarbiyah saat ini sangat mudah didapatkan, mulai dari buku, majalah, media elektronik, cetak dan internet. “Namun, kenikmatan hidup berjamaah dibawah semangat perjuangan akan kita rasakan dalam halaqoh ini,” kata ustd kelahiran Jiput, Kabupaten Pandeglang ini.

Usai menerima nasehat dari sang ustad, tujuh lelaki ini pun diminta untuk menginformasikan seputar kondisi keluarga mulai dari istri sampai anak. Desiran angin malam yang masuk melalui cela-cela jendela menghanyutkan dalam suasana penuh persaudaraan.

Kertas peta Provinsi Banten yang disandarkan pada dinding putih, terlihat menggelembung karena terkena angin. Tujuh lelaki ini memiliki profesi yang berbeda antara lain Pegawai Negeri Sipil (PNS), buruh pabrik, dokter, relawan zakat, guru dan jurnalis. Sedangkan, sang ustad sendiri aktivitasnya di dunia pendidikan yang kini menjadi Caleg DPRD Provinsi Banten.

Selama kurang lebih 2 jam pertemuan, akhirnya pengajian pun ditutup dengan do’a robithoh yang langsung dipimpin oleh Ustad. Lima menit sebelum acara ditutup, sang ustad meminta agar tujuh lelaki ini memiliki spirit pengorbanan demi cita-cita perjuangan tercapai. “Kita harus siap untuk berkorban untuk merubah peradaban,” kata sang ustad yang diamini binaannya.***

Berhenti Sejenak

Jiwa ini menjadi “mati” seperti tidak berfungsi, sensitifitas hati pada nilai-nilai kemanusiaan menjadi kaku, batin kita pun bergemuruh seperti derasnya air terjun. Tak ada kenyamanan dan ketenangan dalam waktu hidup kita.

Jika kita mendapatkan kondisi seperti itu maka tak ada jalan lain kecuali kita berhenti sejenak. Yah, paling tidak kita istirahatkan hati dan jiwa ini untuk merenung sejenak hakikat kehidupan kita di dunia.

Jangan-jangan kita lupa bahwa ada kematian di ujung usia kita yang menanti. Kita lalai akan langkah kaki kita sejauhmana, apakah telah bergeser ke jalur yang sudah digariskan oleh Allah SWT, yaitu kebenaran dan keadilan, kejujuran dan keikhlasan, keberanian mengungkapkan kebenaran,

Rasanya, sulit bagi kita untuk mengetahui perasaan batin kita jika tidak berhenti sejenak. Berhenti untuk melihat jalan mana yang keliru sehingga kita bisa sampai ke jalan itu. Maklum, sebagai manusia kita memiliki musuh abadi yang akan selalu mengajak kepada keburukan, menjauhkan diri ini dari dekapan Allah SWT.

Badan, jiwa dan batin kita pun menjadi linglu seolah tak memiliki arah dan tujuan hidup. Terasa berat rasanya untuk sekadar mengingat kematian. Perasaan taku selalu menyelinap di sela-sela jantung kita.

Berhentilah sejenak, untuk sekadar mengingat perjalanan yang sudah kita lalui. Mengukur kadar keimanan kita dan kondisi jiwa yang mungkin bisa jadi rapuh dan ringkih seperti kayu yang tersambar petir. Tak ada daun yang tersisa hanya kerangka batang yang kulitnya terkelupas oleh sengatan panasnya dunia yang menggoda. Wallahu alam.

Sebait Doa Tuk Palestina

Senja pekat menggunung, gumpalan awan hitam mengepul di tengah jiwa yang telah menanti berjumpa dengan Illahi tuk meraih gelar syuhada. Kematian tak menjadi sesuatu yang mengerikan namun berubah menjadi kilatan sinar yang menyilaukan mata, layaknya orang memandang dunia yang begitu indah dan mempesona.

Ceceran darah segar para syuhada dan senyuman jasad yang telah dipisahkan dari nyawa seperti memberitahukan bahwa mereka tidaklah mati. Melainkan, sedang berjumpa dengan kekasih yang paling setia dan menepati janjinya yaitu Allah SWT.

Ya Allah jangan jadikan tangisan kami tangisan buaya, yang merana ketika kelaparan dan kekurangan. Tapi jadikan tangisan kami penuh keilhlasan. Saudaraku di Palestina, kami mohon maaf tak bisa berkumpul di sana untuk melawan kezaliman kaum Yauhdi.

Kami dengar jeritan anak-anak disana yang merindukan dekapan sang ibu. Kami juga tahu kalau kalian disana hidup dalam jepitan benteng kaum Yahudi yang angkuh dan sombong

Ingin rasanya kepeluk dada kalian yang bergemuruh layaknya hantaman gelombang pada karang.

Yah, gelombang yang ingin menghancurkan kezaliman dan tirani yang selama ini mengekang kebebasan kalian. Batu-batu yang kalian lemparkan akan menjadi saksi kelak di akhirat. Bersabarlah saudaraku, teguhlah para mujahid dan mujahidah.

Suatu saat keangkuhan Yahudi akan sirna dan hancur layaknya pasukan gajah dari Yaman yang luluh lantah oleh burung ababil yang gagah perkasa. Allahu Akbar….Allahu Akbar…..Allahu Akbar. ****

Suasana Batin Harus Dikontrol

Secara fitrah manusia dilahirkan ingin menjadi orang yang hanif (lurus-red). Lingkungan dan kegigihannya dalam memegang fitrah itulah yang nantinya akan menentukan ke arah mana seseorang akan menjatuhkan pilihannya.

Oleh Abu Hazimah Ayu Fadia

Apakah ia gagal dalam mempertahankan nilai dasar tersebut sehingga lambat laun terbawa arus keburukan atau teguh dalam membawa dan mempertahankan prinsip dasar tersebut, itu ditentukan sejauhmana seseorang menautkan kecenderungan tersebut.

Seringkali kita menemukan karakter manusia yang mengaku lurus tapi sementara dilain pihak seseorang tersebut bengkok. Namun, secara kasatmata kondisi batin seseorang sesungguhnya dapat di lihat dari permukaan, baik raut wajah, sikap, perilaku, cara ia menyelesaikan sebuah persoalan, termasuk fashion.

Dalam pertemuan rutin kajian spiritual pekanan, Mantan Ketua Umum Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Daerah Banten Periode 1998-2000, Hasan Basri memberikan beberapa hal terkait teropong batin seseorang.

Menurut anggota DPRD Kota Serang, Provinsi Banten ini, seseorang yang batinnya sedang bermasalah maka akan berpengaruh terhadap perilaku dan cara ia menyelesaikan sebuah masalah. “Jika seseorang sudah tidak memiliki komitmen untuk hadir dalam majelis ilmu, tidak konsenstrasi dalam melakukan amal, sudah tidak ada lagi keinginan ke baitullah maka itu pertanda kondisi batin orang tersebut sedang bermasalah,” kata suami Ika ini.

Jika batin seseorang rapuh maka dalam setiap menyelesaikan masalah hanya dipandang dari sisi logika kemanusiaan dan mengabaikan intervensi dari Allah SWT. “Padahal, logika manusia sangat terbatas dan tidak akan mampu melebihi dari apa yang telah dipercayakan Allah SWT, kepada seseorang itu,” tuturnya.

Ketua Umum Gema Keadilan Kota Serang ini memberikan catatan supaya batin kita tetap terjaga dan terkontrol. “Memang suasan batin manusia selalu naik turun, oleh karena itu kita perlu memiliki standar supaya ada rem sebagai langkah antisipasi kemerosotan batin ke jurang keburukan,” katanya.

Menurutnya, sebagai seorang muslim yang memiliki sejumlah referensi baik dari AlQur;an maupun Sunnah, sudah selayaknya menerapkan standarisasi ibadah. “Salah satu contohnya, standar shalat kita adalah 5 waktu. Namun, jika suasana batin sedang bagus maka bisa ditambah dengan sunnah dan tepat waktu. Akan tetapi, jika dalam kondisi kurang baik karena berbagai permasalah yang ada maka kita tidak boleh mengurangi jumlah 5 waktu yang sudah kita standarkan tersebut,” tuturnya.

Sebab, kata dia, jika kita sudah berani menurunkan standar tersebut maka lambat laun akan menjadi di bawah standar alias gagal dalam memegang prinsip nilai-nilai agama. “Standarisasi ibadah itu penting supaya suasana batin kita tetap terkontrol,” pesannya. Serang, 8 Juni 2008

Membangun Rumah Tangga Islami [1]

Rumah tangga merupakan benih bagi terbentuknya masyarakat dan negara yang Islami. Apabila benihnya baik dan bagus, masyarakat dan negara akan menjadi kuat, kokoh, dan solid. Imam Hasan Al-Banna telah menyebutkan sejumlah unsur yang menentukan jalan bagi para kader untuk membentuk rumah tangga yang Islami, yaitu :

Mengondisikan keluarga agar menghargai fikrohnya

Tema pembicaraan ini sangat perlu untuk kita cermati lebih mendalam, karena masih ada di antara kita yang melihat wanita dengan pandangan yang merendahkan (inferior). Mereka hanya ditugaskan untuk menyelesaikan urusan dapur, mendidik anak dan melayani suami.

Wanita merupakan pendidik bagi anak-anaknya, ia terkadang tidak tidur karena menjaga dan mengurus keluarga. Jika suaminya menyuruh, ia harus mentaatinya, ia harus bisa memberikan rasa senang jika suaminya memandang, Ia harus dapat menjaga harga diri dan harta benda suaminya jika suaminya tidak ada di rumah. Jika suaminya berbuat baik kepadanya, ia berterimakasih. Namun, apabila ia memiliki kekurangan bersabarlah.

Ada kelompok masyarakat yang tidak pernah pedulu terhadap urusan wanita. Bahkan, mereka tidak mau memberikan hak-hak kepada kaum wanita, misalnya hak berpolitik dan mengemban dakwah. Mereka beranggapan apa yang diberikan syariat kepada wanita hanya berlaku pada itu saja, karena akhlak masyarakat saat itu masih baik, mereka bermoral qur’ani, dan masih memiliki komitmen terhadap agamanya. Sedangkan kaum lelaku pun masih sangat menjaga wibawanya.

Sedangkan kaum lelaki pun masih sangat menjaga wibawanya. Dalam suasana seperti ini, Imam Hasan Al-Banna mengajak kepada kita semua untuk mengondisikan keluraganya agar bisa menghargai fikrohnya.

Bagaimana cara menghargainya?

Pertama, mendidik dan meningkatkan taraf pengetahuan istri agar kepekaan terhadap perintah. Merespon dan memiliki kepekaan terhadap perintah Allah yang dapat menjadi sarana untuk memahami risalah Islam dan berupaya untuk mendakwahnya kembali.

Komitmen wanita yang tidak berlimu tidak berlandaskan pada kesadaran, sedangkan komitmen wanita yang memiliki pengetahuan merupakan komitmen yang lahir dari tanggungjawab dan pemahaman.

Kedua, memperlakukan istri sebagai mitra dalam semua urusan kehidupan, sejak dari mendidik anak hingga kepada membangun masyarakat. Interaksi yang dijalin menggunakan pola musyawarah dan saling memahami, bukan interaksi yang penuh dengan kebencian, main perintah, dan cacian.

Ketiga, Apabila ia memiliki kapabilitas dan kemampuan, diharapkan para suami dapat memberdayakan dalam mendakwahkan bersamanya. Wanita merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakatnya.

Memberdayakan para istri untuk mengemban amanah dakwah memang memiliki konsekuensi tersenderii, yaitu menyedot waktuya dari tugas rumah tangga dan mendidik anak. Dengan demikian, ia harus bertindak ekstra untuk mengawasi anak-anak tatkala sedang tidak ada di rumah. Seorang suami juga harus memperhatikan ide dan pendapatnya dalam melakukan perbaikan.

Keempat, para suami dapat menjadi telada yang baik bagi istri dan anak-anaknya. Teladan yang baik akan semakin memperkokoh istri dan anak dalam meniti kehidupan. Sejelk-jelek keluarga adalah keluarga yang dimpimpin oleh seorang ayah yang apabila berada di luar rumah menjadi dai yang dihormati, sedangkan jika kembali ke rumah menjadi sosok yang tidak berakhlak.

Walaupun dapat menyembunyikan akhlak dan perlikau jeleknya dari masyarakat, ia tidak akan dapat menyembunyikan dari istri dan anak-anaknya dalam rumah tangganya sendiri.

Kelima, bukan hal yang mustahul jika ada seorang ibu yang baik namun anaknya tidak berakhlak. Oleh karena itu, seorang suami harus bekerjasama dengan berbagai pihak untuk membentuk karakter dan meningkatkan akhlaknya. Karakter didapat karena kebiasaan, sedangkan akhlak di dapat karena mencontoh orang lain.

Dengan cara inilah seorang akan dapat berkomitmen dengan keluarganya, menghormati fikrahnya, meningkatkan ilmu dan pengetahuannya, bermusyawarah, berakhak karimah, memberikan teladan, dan membangun karakternya. [Sumber Buku Pemikiran Moderat Hasan Al-Banna, halaman 202-204]

PERASAAN

Oleh Anis Matta,Lc

Perasaan adalah penghuni rumah hati kita. Tabiat kepenghuninya seperti tabiat kepribadian kita. Kadang ia menjadi penghuni yang baik, di lain waktu ia menjadi penghuni yang nakal. Kadang ia bergemuruh bagai gelombang, kadang ia melambai-lambai bagai riak-riak kecil.

Jangan sekali-kali meremehkan perasaan. Kata Syekh Ali At-Thanthawi. Sebab, manusia menjadi manusia dengan perasaannya. Ia adalah tempat persinggahan dua hal yang tersuci di dunia: iman dan cinta.

Di tengah hiruk pikuk modernisasi, ketika rasionalisme membunuh bayi-bayi romantika yang lahir dari rahim fitrah kita. Kata hukum-hukum positif membungkam semua celah dari mana semua suara nurani bisa terdengar, terkadang kita semua jadi bisu, dan bertandatanya dalam keraguan;

Masih adakah tempat bagi perasaan di dunia kita? Bahkan terkadang kita merasa begitu cengeng kepada penguasa rasionalitas kita?

Tapi, ketika saya membaca ungkapan Syekh Ali At-Thanthawi tadi yang ditulisnya tahun 40 an, saya tiba-tiba mendapatkan keberanian kembali.

Apakah yang membuat puisi-puisi Iqbal bagai mercusuar yang begitu kuat di tengah kegelapan rasionalitas kita? Apakah yang membuat kata-kata Sayid Qutb dalam Fi Zhilalil Qur’an begitu kuat mengehntak akal batin kita, dan menghidupkan kembali semangat pengembaraan nurani kita menuju tepian pantai dimana janji-janji Allah menanti kita?

Apakah yang membuat khotbah-khotbah Ibnul Jauzi mampu melunakan batu hati pemimpin yang zalim dijamannya dan memuncratkan air mata taubat dari batu hati itu, yang sebelumnya tak pernah meyakini kalau manusia itu mempunyai air mata dan bisa menangis?

Pikiran itu adalah benda gaib yang dimaterikan oleh kata. Tapi, materi kata adalah raga tanpa nafas kehidupan. Berceritalah kepadaku tentang Tuhan dengan materi kata rasionalisme barat atau logika Yunani.

Saya mungkin akan percaya pada keberadaan Tuhan. Tapi, jangan harap saya akan merendahkan diri untuk bersujud kepadaNya. Bukankah itu yang terjadi pada dunia manusia kini?

Ini, kita perlu membawa anak-anak pikiran kita pada taman perasaan kita. Biarkan ia bermain di sana. Biarkan ia tumbuh dan besar di sana. Karena hanya di sana ia bisa menjadikan gagasan-gagasan kita sebagai kenyataan.

Kembalikan anak-anak pikiranmu ke alam perasanmu. Biarkan ia mengalir dalam deras arusnya, hingga engkau tak dapat membedakan salah satu dari keduanya.

Saat ia kembali, engkau niscaya akan menemukan materi katamu telah bergerak dengan nafas kehendak yang tak terbendung. Engkau akan menemukan sebuah “logika” baru yang tercipta dari talikecapi nurani.

Logika nurani engaku dapat memetik talikecapi itu setiap saat. Dan setiap saat engkau akan dengarkan gema suara yang menggetarkan wujud, memabukan jiwa, menyihir akal, mengaburkan mata, sama seperti engkau meniupkan nafas cinta pada kuncup yang mekar jadi bunga.