PERASAAN

Oleh Anis Matta,Lc

Perasaan adalah penghuni rumah hati kita. Tabiat kepenghuninya seperti tabiat kepribadian kita. Kadang ia menjadi penghuni yang baik, di lain waktu ia menjadi penghuni yang nakal. Kadang ia bergemuruh bagai gelombang, kadang ia melambai-lambai bagai riak-riak kecil.

Jangan sekali-kali meremehkan perasaan. Kata Syekh Ali At-Thanthawi. Sebab, manusia menjadi manusia dengan perasaannya. Ia adalah tempat persinggahan dua hal yang tersuci di dunia: iman dan cinta.

Di tengah hiruk pikuk modernisasi, ketika rasionalisme membunuh bayi-bayi romantika yang lahir dari rahim fitrah kita. Kata hukum-hukum positif membungkam semua celah dari mana semua suara nurani bisa terdengar, terkadang kita semua jadi bisu, dan bertandatanya dalam keraguan;

Masih adakah tempat bagi perasaan di dunia kita? Bahkan terkadang kita merasa begitu cengeng kepada penguasa rasionalitas kita?

Tapi, ketika saya membaca ungkapan Syekh Ali At-Thanthawi tadi yang ditulisnya tahun 40 an, saya tiba-tiba mendapatkan keberanian kembali.

Apakah yang membuat puisi-puisi Iqbal bagai mercusuar yang begitu kuat di tengah kegelapan rasionalitas kita? Apakah yang membuat kata-kata Sayid Qutb dalam Fi Zhilalil Qur’an begitu kuat mengehntak akal batin kita, dan menghidupkan kembali semangat pengembaraan nurani kita menuju tepian pantai dimana janji-janji Allah menanti kita?

Apakah yang membuat khotbah-khotbah Ibnul Jauzi mampu melunakan batu hati pemimpin yang zalim dijamannya dan memuncratkan air mata taubat dari batu hati itu, yang sebelumnya tak pernah meyakini kalau manusia itu mempunyai air mata dan bisa menangis?

Pikiran itu adalah benda gaib yang dimaterikan oleh kata. Tapi, materi kata adalah raga tanpa nafas kehidupan. Berceritalah kepadaku tentang Tuhan dengan materi kata rasionalisme barat atau logika Yunani.

Saya mungkin akan percaya pada keberadaan Tuhan. Tapi, jangan harap saya akan merendahkan diri untuk bersujud kepadaNya. Bukankah itu yang terjadi pada dunia manusia kini?

Ini, kita perlu membawa anak-anak pikiran kita pada taman perasaan kita. Biarkan ia bermain di sana. Biarkan ia tumbuh dan besar di sana. Karena hanya di sana ia bisa menjadikan gagasan-gagasan kita sebagai kenyataan.

Kembalikan anak-anak pikiranmu ke alam perasanmu. Biarkan ia mengalir dalam deras arusnya, hingga engkau tak dapat membedakan salah satu dari keduanya.

Saat ia kembali, engkau niscaya akan menemukan materi katamu telah bergerak dengan nafas kehendak yang tak terbendung. Engkau akan menemukan sebuah “logika” baru yang tercipta dari talikecapi nurani.

Logika nurani engaku dapat memetik talikecapi itu setiap saat. Dan setiap saat engkau akan dengarkan gema suara yang menggetarkan wujud, memabukan jiwa, menyihir akal, mengaburkan mata, sama seperti engkau meniupkan nafas cinta pada kuncup yang mekar jadi bunga.

0 Response to "PERASAAN"