Secara fitrah manusia dilahirkan ingin menjadi orang yang hanif (lurus-red). Lingkungan dan kegigihannya dalam memegang fitrah itulah yang nantinya akan menentukan ke arah mana seseorang akan menjatuhkan pilihannya.
Oleh Abu Hazimah Ayu Fadia
Apakah ia gagal dalam mempertahankan nilai dasar tersebut sehingga lambat laun terbawa arus keburukan atau teguh dalam membawa dan mempertahankan prinsip dasar tersebut, itu ditentukan sejauhmana seseorang menautkan kecenderungan tersebut.
Seringkali kita menemukan karakter manusia yang mengaku lurus tapi sementara dilain pihak seseorang tersebut bengkok. Namun, secara kasatmata kondisi batin seseorang sesungguhnya dapat di lihat dari permukaan, baik raut wajah, sikap, perilaku, cara ia menyelesaikan sebuah persoalan, termasuk fashion.
Dalam pertemuan rutin kajian spiritual pekanan, Mantan Ketua Umum Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Daerah Banten Periode 1998-2000, Hasan Basri memberikan beberapa hal terkait teropong batin seseorang.
Menurut anggota DPRD Kota Serang, Provinsi Banten ini, seseorang yang batinnya sedang bermasalah maka akan berpengaruh terhadap perilaku dan cara ia menyelesaikan sebuah masalah. “Jika seseorang sudah tidak memiliki komitmen untuk hadir dalam majelis ilmu, tidak konsenstrasi dalam melakukan amal, sudah tidak ada lagi keinginan ke baitullah maka itu pertanda kondisi batin orang tersebut sedang bermasalah,” kata suami Ika ini.
Jika batin seseorang rapuh maka dalam setiap menyelesaikan masalah hanya dipandang dari sisi logika kemanusiaan dan mengabaikan intervensi dari Allah SWT. “Padahal, logika manusia sangat terbatas dan tidak akan mampu melebihi dari apa yang telah dipercayakan Allah SWT, kepada seseorang itu,” tuturnya.
Ketua Umum Gema Keadilan Kota Serang ini memberikan catatan supaya batin kita tetap terjaga dan terkontrol. “Memang suasan batin manusia selalu naik turun, oleh karena itu kita perlu memiliki standar supaya ada rem sebagai langkah antisipasi kemerosotan batin ke jurang keburukan,” katanya.
Menurutnya, sebagai seorang muslim yang memiliki sejumlah referensi baik dari AlQur;an maupun Sunnah, sudah selayaknya menerapkan standarisasi ibadah. “Salah satu contohnya, standar shalat kita adalah 5 waktu. Namun, jika suasana batin sedang bagus maka bisa ditambah dengan sunnah dan tepat waktu. Akan tetapi, jika dalam kondisi kurang baik karena berbagai permasalah yang ada maka kita tidak boleh mengurangi jumlah 5 waktu yang sudah kita standarkan tersebut,” tuturnya.
Sebab, kata dia, jika kita sudah berani menurunkan standar tersebut maka lambat laun akan menjadi di bawah standar alias gagal dalam memegang prinsip nilai-nilai agama. “Standarisasi ibadah itu penting supaya suasana batin kita tetap terkontrol,” pesannya. Serang, 8 Juni 2008
0 Response to "Suasana Batin Harus Dikontrol"
Posting Komentar