Kisah Mualaf dari Amerika Serikat


Berawal dari kesalahan data komputer, hidup perempuan cerdas ini berubah total dari seorang penganut Kristen Baptis yang taat dan seorang feminis yang radikal, menjadi seorang muslimah dan salah satu tokoh cendekiawan Muslim di AS. Selama 33 tahun menjadi seorang Muslim, ia aktif berdakwah, diundang sebagai pembicara, menulis dan memberikan advokasi di bidang keislaman dan hak-hak perempuan. Dunia internasional mengenal dan menghormatinya sehingga baru-baru ini ia terpilih sebagai satu dari 500 Muslim paling berpengaruh di dunia.

Namanya Aminah Assilmi. Usianya 65 tahun. Namun nama itu kini menjadi kenangan, karena Allah Swt telah memanggilnya pada tanggal 5 Maret 2010. Aminah meninggal dunia setelah pukul 03.00 dinihari waktu setempat, akibat kecelakaan mobil di dekat Newport, setelah memberikan ceramah di New York. Jabatan terakhirnya sampai ia menghembuskan napas yang terakhir adalah Direktur International Union of Muslim Women.

Meski telah tiada, kisah keislaman dan dakwah sosok perempuan yang aktif di masyarakat dan dikenal sebagai cendikiawan Islam dengan level internasional menjadi inspirasi banyak orang.

Saat Hidayah itu Datang

Sebelum masuk Islam, Aminah terlahir dari keluarga Kristen Baptis di wilayah Selatan AS. Sebagai perempuan, Aminah memiliki kecerdasan diatas rata-rata gadis seusianya. Dia selalu mendapatkan nilai sempurna di sekolah, mendapat beasiswa saat kuliah dan sejak menjadi menjadi mahasiswi, ia sudah mengelola bisnis sendiri, bersaing dengan para profesional dan meraih beberapa penghargaan. Ia juga menjadi aktivis perempuan yang menganut feminisme dan bekerja sebagai wartawan media elektronik.

Suatu hari pada tahun 1975, Aminah menggunakan komputer untuk mendaftarkan diri ke sebuah perguruan tinggi. Saat itu baru pertamakalinya komputer digunakan untuk pendaftaran di perguruan tinggi tersebut. Sementara ia menunggu hasil pra-pendaftarannya untuk jurusan Wisata, Aminah pergi ke Oklahoma untuk mengurus bisnisnya. Karena sesuatu hal, kepulangannya tertunda, ia baru kembali ke perguruan tinggi tempat ia mendaftarkan diri dua minggu ketika perkualiahan sudah dimulai. Betapa terkejutnya Aminah, karena komputer salah mengolah datanya dan nama Aminah masuk ke jurusan Teater. Jurusan yang mengharuskannya tampil di depan banyak orang.

Sebagai gadis yang cenderung pemalu, Aminah gundah memikirkan dirinya harus tampil di depan banyak orang. Ia tidak bisa membatalkan perkuliahannya, karena sudah terlalu terlambat untuk mengurus kesalahan kompouter itu. Ia tidak mau gagal karena ia menerima beasiswa. Nilai "F" di mata kuliah, akan mengganggu pemberian beasiswanya.

Atas nasehat suaminya, Aminah menemui dosennya untuk membicarakan alternatif untuk tampil, seperti persiapan kostum dan lain sebagainya. Dosennya berjanji untuk membantu dan Aminah datang ke kelas selanjtnya yang membuat ia syok dengan apa yang ia saksikan. Kelas itu penuh dengan orang-orang Arab, yang oleh Aminah dijuluki "para joki unta". Aminah langsung pulang ke rumah dan memutuskan untuk tidak kuliah lagi. Ia tidak mau berada di tengah orang-orang Arab. "Aku tidak akan pernah duduk dalam satu ruangan yang penuh dengan orang-orang kafir yang kotor," tegasnya ketika itu.

Melihat kegundahan isterinya, suami Aminah dengan sikap kalem seperti biasanya memberinya penjelasan bahwa Tuhan pasti punya alasan untuk segala sesuatu. Ia menasehati Aminah untuk berpikir dalam-dalam sebelum memutuskan berhenti kuliah. Aminah mengunci dirinya selama dua hari untuk mempertimbangkan nasehat suaminya dan akhirnya ia memutuskan untuk tetap kuliah. Tapi keputusan itu dibarengi dengan pikiran bahwa Tuhan telah menugaskan dirinya untuk mengajak orang-orang Arab itu masuk agama Kristen.

Aminah pergi kualiah dengan sebuah misi. Sepanjang perkuliahan, Aminah akan menyempatkan diri untuk membicarakan agama Kristen yang dianutnya dengan teman-teman Arabnya di kelas. "Saya mulai menceramahi mereka bagaimana mereka akan dibakar di neraka untuk selama-lamanya kalau mereka tidak menerima Yesus sebagai penyelamat mereka," ujar Aminah menceritakan pengalamannya sebelum masuk Islam.

Tapi, sambungnya, teman-teman Arabnya sangat sopan dan tidak ada yang mau masuk Kristen. Aminah masih terus berusaha mempengaruhi mereka dengan mengatakan bahwa Yesus sangat mencintai mereka dan rela mati disalib untuk menyelamatkan manusia dari dosa-dosa. Yang harus dilakukan manusia hanyalah menerima Yesus dalam hati mereka.

Teman-teman Arab Aminah tetap tidak ada yang mau pindah agama ke Kristen dan Aminah pantang mundur. Ia memutuskan untuk membaca kitab suci Al-Quran untuk menunjukan pada teman-teman Arabnya bahwa Islam adalah agama palsu dan Nabi Muhammad adalah tuhan palsu.

Atas permintaan Aminah, seorang mahasiswa membawakannya kitab suci Al-Quran dan sebuah buku tentang Islam. Aminah lalu memulai pencariannya untuk mematahkan keyakinan teman-teman Arabnya terhadap Islam. Aminah membaca seluruh isi Al-Quran dan sedikitnya 15 buku tentang Islam, lalu ia kembali pada Al-Quran dan membacanya kembali. Selama pencariannya itu, ia mulai membuat beberapa catatan hal-hal yang menurutnya bisa ia bantah dan akan dijadikannya sebagi bukti bahwa Islam adalah agama palsu.

Tapi tanda disadarinya, telah terjadi perubahan pada diri Aminah dan suaminya yang melihat perubahan itu. "Dalam beberapa hal kecil saya mulai berubah, yang cukup membuat suami saya terganggu. Kami biasa pergi ke bar setiap hari Jumat dan Sabtu atau pergi ke pesta. Lalu saya mulai malas pergi ke tempat itu, saya jadi agak pendiam dan mulai menjauh," tutur Aminah.

Sejak ia membaca Al-Quran dan buku-buku Islam, Aminah juga mulai berhenti minum minuman keras dan tidak lagi makan daging babi. Karena perubahan-perubahan itu, suaminya menuduhnya selingkuh dengan lelaki lain dan mengusirnya. Aminah lalu pindah dan hidup sendirian di sebuah apartamen. Dalam kesendiriannya, Aminah terus mempelajari Islam meski ia masih tetap menjadi seorang Kristen yang taat.

Sampai suatu hari, terdengar ketukan di pintu apartemennya. Seorang laki-laki-yang kemudian dikenalnya bernama Abdul Aziz Al-Syaikh-mengenakan busana tradisional muslim berupa baju gamis panjang berwarna putih dengan sorban bermotif papan catur putih merah terlilit di kepalanya. Lelaki itu datang bersama tiga lelaki lainnya yang mengenakan busana yang sama. Ketika itu, Aminah merasa marah karena para tamu itu datang saat ia mengenakan baju tidur dan piyama saja.

Aminah makin kaget ketika Abdul Aziz mengatakan bahwa ia memahami bahwa Aminah ingin menjadi seorang muslim. Aminah lalu menjawab bahwa ia seorang Kristiani dan tidak berniat untuk menjadi seorang muslim. Tapi Aminah punya banyak pertanyaan dan menanyakan apakah tamu-tamunya itu punya waktu luang.

Akhirnya Aminah mempersilahkan mereka masuk. Ia lalu menanyakan hal-hal dan keberatan-keberatannya yang sudah ia catat selama ia membaca Al-Quran dan buku-buku Islam. "Saya tidak akan melupakan namanya, Abdul Aziz adalah seorang yang sabar dan lemah lembut. Ia dengan sangat sabar membahas pertanyaan-pertanyaan itu bersama saya. Dia tidak membuat saya seperti orang bodoh atau membuat pertanyaan saya seperti pertanyaan yang bodoh," ungkap Aminah.

Aminah mengatakan, Abdul Aziz menjelaskan padanya bahwa Allah memerintahkan manusia untuk mencari ilmu dan bertanya sebagai salah satu cara untuk mendapatkan ilmu. Aminah seperti menyaksikan kuntum bunga sedang bermekaran mendengar penjelasan Abdul Aziz. Ketika ia berbeda pendapat, Abdul Aziz akan memjelaskannya lebih dalam dan dari sisi pandang yang berbeda sampai Aminah benar-benar memahaminya.

Setelah berdiskusi dengan Abdul Aziz dan teman-temannya, tidak butuh waktu lalu buat Aminah untuk memutuskan masuk Islam. Satu setengah tahun ia sudah mempelajari Islam dan Al-Quran, keesokan harinya setelah Abdul Aziz bertamu ke rumahnya, Aminah mengucapkan dua kalimat syahadat disaksikan Abdul Aziz dan teman-temannya yang datang malam itu.

Cobaan Bertubi Setelah Menjadi Muslim

Seperti kebanyakan para mualaf yang harus menghadapi konsekuensi yang tidak mengenakan setelah masuk Islam, begitu pula Aminah. Setelah menjadi seorang muslimah, Aminah banyak kehilangan teman-temannya. Ibunya juga tidak menerima keislamannya. Saudara perempuannya bahwa menganggap Aminah sakit jiwa dan ingin memasukkannya ke tempat rehabilitasi para penderita gangguan mental. Ayah Aminah yang dikenal sebagai orang yang bijak dan tempat meminta nasehat oleh banyak orang, tiba-tiba menjadi beringas dan seolah-olah ingin membunuh Aminah setelah mendengar puterinya menjadi seorang muslim.

Aminah sendirian, tanpa teman dan tanpa keluarga. Tapi ia tetap memilih jalan Islam, bahkan memutuskan untuk segera berjilbab meski untuk itu ia harus kehilangan pekerjaannya karena dipecat. Cobaan itu belum cukup, karena suami Aminah menceraikannya begitu tahu ia masuk Islam dan pengadilan memutuskan dua anaknya, satu laki-laki dan satu perempuan, dibawah pengasuhan suaminya, hanya karena Aminah kini menjadi seorang muslim.

"Itulah 20 menit yang paling menyakitkan dalam kehidupan saya," kata Aminah dalam sebuah wawancara saat ia harus melepas kedua anaknya.

Di Colorado, Aminah mencoba membeberkan kasusnya pada media massa. Ia berharap bisa mendapatkan hak pengasuhan anaknya kembali karena hukum di Colorado menyebutkan bahwa seseorang tidak bisa kehilangan hak asuh anaknya hanya karena latar belakang agamanya. Meski demikian, Aminah tetap tidak berhasil mendapatkan hak asuh itu.

Aminah kembali menjalani kehidupannya sebagai seorang muslim. Meski sakit hati, ia tetap memperlakukan keluarganya dengan hormat dan tetap menjaga komunikasi dengan mereka. Ia juga tetap mendakwahkan Islam dalam setiap kesempatan bertemu dengan keluarganya. Dan perjuangannya tidak sia-sia.

Anggota keluarganya yang kemudian masuk Islam adalah neneknya yang sudah berusia lebih dari 100 tahun. Tak lama setelah bersyahadat, neneknya wafat. Setelah itu, ayah Amina yang dulu ingin membunuhnya karena keislamannya, menyatakan diri masuk Islam. Beberapa tahun kemudian, ibu Aminah pun menjadi muslimah. Lalu suami Aminah dan saudara perempuannya yang dulu ingin memasukkannya ke rumah sakit jiwa akhirnya juga mengucapkan dua kalimah syahadat. Tak ketinggalan, anak lelaki Aminah, pada usia 21 tahun juga memutuskan untuk menjadi seorang Muslim.

Subhanallah ... tak ada hal yang paling membahagiakannya Aminah selain melihat keluarganya memeluk Islam. Aminah pun terus mendakwahkan pengalamannya dan agama Islam sehingga banyak orang yang sudah terinspirasi dari pengalaman hidupnya. Entah sudah berapa banyak orang yang masuk Islam, setelah mendengar kisah Aminah dan ceramah-ceramah agamanya.

Sekarang sosok Aminah Assilmi sudah tiada, tapi namanya tetap harus dan hidup di hati orang-orang yang mengagumi dan menyayanginya. [Diambil dari www.eramuslim.com]

Hakikat Drama Kehidupan


Kehidupan adalah pengulangan peristiwa dengan pemain dan tempat yang berbeda. Sebut saja, masalah banjir yang terjadi di sejumlah daerah seperti DKI Jakarta, Pandeglang Provinsi Banten, Solo Jawa Tengah. Peristiwa ini sudah pernah terjadi sejak masa nabi beberapa abad silam.

OLEH ABU HAZIMAH AYU FADIA

Atau bencana tsunami di Nanggro Aceh Darussalam, yang menewaskan banyak nyawa. Musibah serupa juga pernah terjadi pada masa Nabi Nuh. Ketika itu banjir bandang begitu dahsyat hingga setinggi puncak gunung. Pertanyaannya, apakah perisitiwa ini menyadarkan kita untuk berbenah atau menganggap bahwa peristiwa yang kita temui merupakan kebetulan, tanpa ada campur tangan sang pencipta.

Fakta ini diperkuat dengan perkataan Allah SWT di dalam surat Al-A;raf ayat 101. “Negeri-negeri yang telah kami binasakan itu, kami ceritakan sebagian dari berita-beritanya kepadamu. Dan sungguh telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka mereka juga tidak beriman kepada apa yang dahulunya mereka telah mendustakannya. Demikianlah Allah mengunci mata hati orang-orang kafir”.

Masih banyak cerita-cerita kehidupan ini yang secara substansi sama dengan peristiwa masa lampau. Mulai dari cerita sebagian kaum nabi Luth yang melakukan percintaan dengan sesama jenis hingga pembunuhan anak laki-laki oleh Fira’un. Semua cerita dan kisah masa lalu itu hingga saat ini masih ada dan akan terus terjadi sampai kemudian Allah mematikan semua mahluk alias kiamat.

Lalu apa yang mesti kita tarik benang merahnya terhadap drama kehidupan ini. Menyadari diri bahwa hidup kita bukanlah sesuatu yang kebetulan, melainkan sesuatu yang sudah direncanakan oleh sang pencipta. Oleh karena itu, kita harus mendekap dan merayu Allah dengan shalat malam, puasa sunnah, berbuat kebaikan dan sabar.

Kesadaran inilah yang mesti kita miliki supaya alur kehidupan kita lebih berarti dan tidak terjebak pada orientasi duniawi belaka. Bekerja dan mencari maisyah (penghasilan) itu penting karena kita saat ini masih di alam dunia. Tapi, ingat ada terminal lain yang harus kita singgahi, seperti alam kubur dan padang ma’syar.













7 Lelaki Bersama Murobi

Ruangan mungil bercat putih mendadak ramai oleh suara tawa 7 lelaki. Suara air conditioner (AC) yang mendesah seolah mengerti apa yang terjadi di ruangan itu. Mereka larut dalam suasana riang meskipun belakangan diketahui banyak persoalan yang dihadapi oleh mereka.

Oleh Abu Hazimah Ayu Fadia

Tak banyak yang dilakukan oleh tujuh lelaki ini, di dalam ruangan berukuran kira-kira 4 kali 2 meter. Membaca dan hafalan Al-Qur’an, mendengarkan tausiah dari sang ustad, berdoa, saling tukar informasi dan menanyakan keadaan keluarga.

Aktivitas rutin ini biasa dilakukan sepekan sekali dengan hari yang telah disepakati bersama. “Tarbiyah bukan hanya kegiatan pemberian materi, tapi ada yang jauh lebih penting dariapada itu yaitu kehidupan berjamaah,” kata sang ustad.

Menurut ustad yang masih kerabat dengan Menteri Pertanian Anton Apriantono, menjelaskan, materi-materi tarbiyah saat ini sangat mudah didapatkan, mulai dari buku, majalah, media elektronik, cetak dan internet. “Namun, kenikmatan hidup berjamaah dibawah semangat perjuangan akan kita rasakan dalam halaqoh ini,” kata ustd kelahiran Jiput, Kabupaten Pandeglang ini.

Usai menerima nasehat dari sang ustad, tujuh lelaki ini pun diminta untuk menginformasikan seputar kondisi keluarga mulai dari istri sampai anak. Desiran angin malam yang masuk melalui cela-cela jendela menghanyutkan dalam suasana penuh persaudaraan.

Kertas peta Provinsi Banten yang disandarkan pada dinding putih, terlihat menggelembung karena terkena angin. Tujuh lelaki ini memiliki profesi yang berbeda antara lain Pegawai Negeri Sipil (PNS), buruh pabrik, dokter, relawan zakat, guru dan jurnalis. Sedangkan, sang ustad sendiri aktivitasnya di dunia pendidikan yang kini menjadi Caleg DPRD Provinsi Banten.

Selama kurang lebih 2 jam pertemuan, akhirnya pengajian pun ditutup dengan do’a robithoh yang langsung dipimpin oleh Ustad. Lima menit sebelum acara ditutup, sang ustad meminta agar tujuh lelaki ini memiliki spirit pengorbanan demi cita-cita perjuangan tercapai. “Kita harus siap untuk berkorban untuk merubah peradaban,” kata sang ustad yang diamini binaannya.***

Berhenti Sejenak

Jiwa ini menjadi “mati” seperti tidak berfungsi, sensitifitas hati pada nilai-nilai kemanusiaan menjadi kaku, batin kita pun bergemuruh seperti derasnya air terjun. Tak ada kenyamanan dan ketenangan dalam waktu hidup kita.

Jika kita mendapatkan kondisi seperti itu maka tak ada jalan lain kecuali kita berhenti sejenak. Yah, paling tidak kita istirahatkan hati dan jiwa ini untuk merenung sejenak hakikat kehidupan kita di dunia.

Jangan-jangan kita lupa bahwa ada kematian di ujung usia kita yang menanti. Kita lalai akan langkah kaki kita sejauhmana, apakah telah bergeser ke jalur yang sudah digariskan oleh Allah SWT, yaitu kebenaran dan keadilan, kejujuran dan keikhlasan, keberanian mengungkapkan kebenaran,

Rasanya, sulit bagi kita untuk mengetahui perasaan batin kita jika tidak berhenti sejenak. Berhenti untuk melihat jalan mana yang keliru sehingga kita bisa sampai ke jalan itu. Maklum, sebagai manusia kita memiliki musuh abadi yang akan selalu mengajak kepada keburukan, menjauhkan diri ini dari dekapan Allah SWT.

Badan, jiwa dan batin kita pun menjadi linglu seolah tak memiliki arah dan tujuan hidup. Terasa berat rasanya untuk sekadar mengingat kematian. Perasaan taku selalu menyelinap di sela-sela jantung kita.

Berhentilah sejenak, untuk sekadar mengingat perjalanan yang sudah kita lalui. Mengukur kadar keimanan kita dan kondisi jiwa yang mungkin bisa jadi rapuh dan ringkih seperti kayu yang tersambar petir. Tak ada daun yang tersisa hanya kerangka batang yang kulitnya terkelupas oleh sengatan panasnya dunia yang menggoda. Wallahu alam.

Sebait Doa Tuk Palestina

Senja pekat menggunung, gumpalan awan hitam mengepul di tengah jiwa yang telah menanti berjumpa dengan Illahi tuk meraih gelar syuhada. Kematian tak menjadi sesuatu yang mengerikan namun berubah menjadi kilatan sinar yang menyilaukan mata, layaknya orang memandang dunia yang begitu indah dan mempesona.

Ceceran darah segar para syuhada dan senyuman jasad yang telah dipisahkan dari nyawa seperti memberitahukan bahwa mereka tidaklah mati. Melainkan, sedang berjumpa dengan kekasih yang paling setia dan menepati janjinya yaitu Allah SWT.

Ya Allah jangan jadikan tangisan kami tangisan buaya, yang merana ketika kelaparan dan kekurangan. Tapi jadikan tangisan kami penuh keilhlasan. Saudaraku di Palestina, kami mohon maaf tak bisa berkumpul di sana untuk melawan kezaliman kaum Yauhdi.

Kami dengar jeritan anak-anak disana yang merindukan dekapan sang ibu. Kami juga tahu kalau kalian disana hidup dalam jepitan benteng kaum Yahudi yang angkuh dan sombong

Ingin rasanya kepeluk dada kalian yang bergemuruh layaknya hantaman gelombang pada karang.

Yah, gelombang yang ingin menghancurkan kezaliman dan tirani yang selama ini mengekang kebebasan kalian. Batu-batu yang kalian lemparkan akan menjadi saksi kelak di akhirat. Bersabarlah saudaraku, teguhlah para mujahid dan mujahidah.

Suatu saat keangkuhan Yahudi akan sirna dan hancur layaknya pasukan gajah dari Yaman yang luluh lantah oleh burung ababil yang gagah perkasa. Allahu Akbar….Allahu Akbar…..Allahu Akbar. ****

Suasana Batin Harus Dikontrol

Secara fitrah manusia dilahirkan ingin menjadi orang yang hanif (lurus-red). Lingkungan dan kegigihannya dalam memegang fitrah itulah yang nantinya akan menentukan ke arah mana seseorang akan menjatuhkan pilihannya.

Oleh Abu Hazimah Ayu Fadia

Apakah ia gagal dalam mempertahankan nilai dasar tersebut sehingga lambat laun terbawa arus keburukan atau teguh dalam membawa dan mempertahankan prinsip dasar tersebut, itu ditentukan sejauhmana seseorang menautkan kecenderungan tersebut.

Seringkali kita menemukan karakter manusia yang mengaku lurus tapi sementara dilain pihak seseorang tersebut bengkok. Namun, secara kasatmata kondisi batin seseorang sesungguhnya dapat di lihat dari permukaan, baik raut wajah, sikap, perilaku, cara ia menyelesaikan sebuah persoalan, termasuk fashion.

Dalam pertemuan rutin kajian spiritual pekanan, Mantan Ketua Umum Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Daerah Banten Periode 1998-2000, Hasan Basri memberikan beberapa hal terkait teropong batin seseorang.

Menurut anggota DPRD Kota Serang, Provinsi Banten ini, seseorang yang batinnya sedang bermasalah maka akan berpengaruh terhadap perilaku dan cara ia menyelesaikan sebuah masalah. “Jika seseorang sudah tidak memiliki komitmen untuk hadir dalam majelis ilmu, tidak konsenstrasi dalam melakukan amal, sudah tidak ada lagi keinginan ke baitullah maka itu pertanda kondisi batin orang tersebut sedang bermasalah,” kata suami Ika ini.

Jika batin seseorang rapuh maka dalam setiap menyelesaikan masalah hanya dipandang dari sisi logika kemanusiaan dan mengabaikan intervensi dari Allah SWT. “Padahal, logika manusia sangat terbatas dan tidak akan mampu melebihi dari apa yang telah dipercayakan Allah SWT, kepada seseorang itu,” tuturnya.

Ketua Umum Gema Keadilan Kota Serang ini memberikan catatan supaya batin kita tetap terjaga dan terkontrol. “Memang suasan batin manusia selalu naik turun, oleh karena itu kita perlu memiliki standar supaya ada rem sebagai langkah antisipasi kemerosotan batin ke jurang keburukan,” katanya.

Menurutnya, sebagai seorang muslim yang memiliki sejumlah referensi baik dari AlQur;an maupun Sunnah, sudah selayaknya menerapkan standarisasi ibadah. “Salah satu contohnya, standar shalat kita adalah 5 waktu. Namun, jika suasana batin sedang bagus maka bisa ditambah dengan sunnah dan tepat waktu. Akan tetapi, jika dalam kondisi kurang baik karena berbagai permasalah yang ada maka kita tidak boleh mengurangi jumlah 5 waktu yang sudah kita standarkan tersebut,” tuturnya.

Sebab, kata dia, jika kita sudah berani menurunkan standar tersebut maka lambat laun akan menjadi di bawah standar alias gagal dalam memegang prinsip nilai-nilai agama. “Standarisasi ibadah itu penting supaya suasana batin kita tetap terkontrol,” pesannya. Serang, 8 Juni 2008

Membangun Rumah Tangga Islami [1]

Rumah tangga merupakan benih bagi terbentuknya masyarakat dan negara yang Islami. Apabila benihnya baik dan bagus, masyarakat dan negara akan menjadi kuat, kokoh, dan solid. Imam Hasan Al-Banna telah menyebutkan sejumlah unsur yang menentukan jalan bagi para kader untuk membentuk rumah tangga yang Islami, yaitu :

Mengondisikan keluarga agar menghargai fikrohnya

Tema pembicaraan ini sangat perlu untuk kita cermati lebih mendalam, karena masih ada di antara kita yang melihat wanita dengan pandangan yang merendahkan (inferior). Mereka hanya ditugaskan untuk menyelesaikan urusan dapur, mendidik anak dan melayani suami.

Wanita merupakan pendidik bagi anak-anaknya, ia terkadang tidak tidur karena menjaga dan mengurus keluarga. Jika suaminya menyuruh, ia harus mentaatinya, ia harus bisa memberikan rasa senang jika suaminya memandang, Ia harus dapat menjaga harga diri dan harta benda suaminya jika suaminya tidak ada di rumah. Jika suaminya berbuat baik kepadanya, ia berterimakasih. Namun, apabila ia memiliki kekurangan bersabarlah.

Ada kelompok masyarakat yang tidak pernah pedulu terhadap urusan wanita. Bahkan, mereka tidak mau memberikan hak-hak kepada kaum wanita, misalnya hak berpolitik dan mengemban dakwah. Mereka beranggapan apa yang diberikan syariat kepada wanita hanya berlaku pada itu saja, karena akhlak masyarakat saat itu masih baik, mereka bermoral qur’ani, dan masih memiliki komitmen terhadap agamanya. Sedangkan kaum lelaku pun masih sangat menjaga wibawanya.

Sedangkan kaum lelaki pun masih sangat menjaga wibawanya. Dalam suasana seperti ini, Imam Hasan Al-Banna mengajak kepada kita semua untuk mengondisikan keluraganya agar bisa menghargai fikrohnya.

Bagaimana cara menghargainya?

Pertama, mendidik dan meningkatkan taraf pengetahuan istri agar kepekaan terhadap perintah. Merespon dan memiliki kepekaan terhadap perintah Allah yang dapat menjadi sarana untuk memahami risalah Islam dan berupaya untuk mendakwahnya kembali.

Komitmen wanita yang tidak berlimu tidak berlandaskan pada kesadaran, sedangkan komitmen wanita yang memiliki pengetahuan merupakan komitmen yang lahir dari tanggungjawab dan pemahaman.

Kedua, memperlakukan istri sebagai mitra dalam semua urusan kehidupan, sejak dari mendidik anak hingga kepada membangun masyarakat. Interaksi yang dijalin menggunakan pola musyawarah dan saling memahami, bukan interaksi yang penuh dengan kebencian, main perintah, dan cacian.

Ketiga, Apabila ia memiliki kapabilitas dan kemampuan, diharapkan para suami dapat memberdayakan dalam mendakwahkan bersamanya. Wanita merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakatnya.

Memberdayakan para istri untuk mengemban amanah dakwah memang memiliki konsekuensi tersenderii, yaitu menyedot waktuya dari tugas rumah tangga dan mendidik anak. Dengan demikian, ia harus bertindak ekstra untuk mengawasi anak-anak tatkala sedang tidak ada di rumah. Seorang suami juga harus memperhatikan ide dan pendapatnya dalam melakukan perbaikan.

Keempat, para suami dapat menjadi telada yang baik bagi istri dan anak-anaknya. Teladan yang baik akan semakin memperkokoh istri dan anak dalam meniti kehidupan. Sejelk-jelek keluarga adalah keluarga yang dimpimpin oleh seorang ayah yang apabila berada di luar rumah menjadi dai yang dihormati, sedangkan jika kembali ke rumah menjadi sosok yang tidak berakhlak.

Walaupun dapat menyembunyikan akhlak dan perlikau jeleknya dari masyarakat, ia tidak akan dapat menyembunyikan dari istri dan anak-anaknya dalam rumah tangganya sendiri.

Kelima, bukan hal yang mustahul jika ada seorang ibu yang baik namun anaknya tidak berakhlak. Oleh karena itu, seorang suami harus bekerjasama dengan berbagai pihak untuk membentuk karakter dan meningkatkan akhlaknya. Karakter didapat karena kebiasaan, sedangkan akhlak di dapat karena mencontoh orang lain.

Dengan cara inilah seorang akan dapat berkomitmen dengan keluarganya, menghormati fikrahnya, meningkatkan ilmu dan pengetahuannya, bermusyawarah, berakhak karimah, memberikan teladan, dan membangun karakternya. [Sumber Buku Pemikiran Moderat Hasan Al-Banna, halaman 202-204]