Membangun Rumah Tangga Islami [1]

Rumah tangga merupakan benih bagi terbentuknya masyarakat dan negara yang Islami. Apabila benihnya baik dan bagus, masyarakat dan negara akan menjadi kuat, kokoh, dan solid. Imam Hasan Al-Banna telah menyebutkan sejumlah unsur yang menentukan jalan bagi para kader untuk membentuk rumah tangga yang Islami, yaitu :

Mengondisikan keluarga agar menghargai fikrohnya

Tema pembicaraan ini sangat perlu untuk kita cermati lebih mendalam, karena masih ada di antara kita yang melihat wanita dengan pandangan yang merendahkan (inferior). Mereka hanya ditugaskan untuk menyelesaikan urusan dapur, mendidik anak dan melayani suami.

Wanita merupakan pendidik bagi anak-anaknya, ia terkadang tidak tidur karena menjaga dan mengurus keluarga. Jika suaminya menyuruh, ia harus mentaatinya, ia harus bisa memberikan rasa senang jika suaminya memandang, Ia harus dapat menjaga harga diri dan harta benda suaminya jika suaminya tidak ada di rumah. Jika suaminya berbuat baik kepadanya, ia berterimakasih. Namun, apabila ia memiliki kekurangan bersabarlah.

Ada kelompok masyarakat yang tidak pernah pedulu terhadap urusan wanita. Bahkan, mereka tidak mau memberikan hak-hak kepada kaum wanita, misalnya hak berpolitik dan mengemban dakwah. Mereka beranggapan apa yang diberikan syariat kepada wanita hanya berlaku pada itu saja, karena akhlak masyarakat saat itu masih baik, mereka bermoral qur’ani, dan masih memiliki komitmen terhadap agamanya. Sedangkan kaum lelaku pun masih sangat menjaga wibawanya.

Sedangkan kaum lelaki pun masih sangat menjaga wibawanya. Dalam suasana seperti ini, Imam Hasan Al-Banna mengajak kepada kita semua untuk mengondisikan keluraganya agar bisa menghargai fikrohnya.

Bagaimana cara menghargainya?

Pertama, mendidik dan meningkatkan taraf pengetahuan istri agar kepekaan terhadap perintah. Merespon dan memiliki kepekaan terhadap perintah Allah yang dapat menjadi sarana untuk memahami risalah Islam dan berupaya untuk mendakwahnya kembali.

Komitmen wanita yang tidak berlimu tidak berlandaskan pada kesadaran, sedangkan komitmen wanita yang memiliki pengetahuan merupakan komitmen yang lahir dari tanggungjawab dan pemahaman.

Kedua, memperlakukan istri sebagai mitra dalam semua urusan kehidupan, sejak dari mendidik anak hingga kepada membangun masyarakat. Interaksi yang dijalin menggunakan pola musyawarah dan saling memahami, bukan interaksi yang penuh dengan kebencian, main perintah, dan cacian.

Ketiga, Apabila ia memiliki kapabilitas dan kemampuan, diharapkan para suami dapat memberdayakan dalam mendakwahkan bersamanya. Wanita merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakatnya.

Memberdayakan para istri untuk mengemban amanah dakwah memang memiliki konsekuensi tersenderii, yaitu menyedot waktuya dari tugas rumah tangga dan mendidik anak. Dengan demikian, ia harus bertindak ekstra untuk mengawasi anak-anak tatkala sedang tidak ada di rumah. Seorang suami juga harus memperhatikan ide dan pendapatnya dalam melakukan perbaikan.

Keempat, para suami dapat menjadi telada yang baik bagi istri dan anak-anaknya. Teladan yang baik akan semakin memperkokoh istri dan anak dalam meniti kehidupan. Sejelk-jelek keluarga adalah keluarga yang dimpimpin oleh seorang ayah yang apabila berada di luar rumah menjadi dai yang dihormati, sedangkan jika kembali ke rumah menjadi sosok yang tidak berakhlak.

Walaupun dapat menyembunyikan akhlak dan perlikau jeleknya dari masyarakat, ia tidak akan dapat menyembunyikan dari istri dan anak-anaknya dalam rumah tangganya sendiri.

Kelima, bukan hal yang mustahul jika ada seorang ibu yang baik namun anaknya tidak berakhlak. Oleh karena itu, seorang suami harus bekerjasama dengan berbagai pihak untuk membentuk karakter dan meningkatkan akhlaknya. Karakter didapat karena kebiasaan, sedangkan akhlak di dapat karena mencontoh orang lain.

Dengan cara inilah seorang akan dapat berkomitmen dengan keluarganya, menghormati fikrahnya, meningkatkan ilmu dan pengetahuannya, bermusyawarah, berakhak karimah, memberikan teladan, dan membangun karakternya. [Sumber Buku Pemikiran Moderat Hasan Al-Banna, halaman 202-204]

PERASAAN

Oleh Anis Matta,Lc

Perasaan adalah penghuni rumah hati kita. Tabiat kepenghuninya seperti tabiat kepribadian kita. Kadang ia menjadi penghuni yang baik, di lain waktu ia menjadi penghuni yang nakal. Kadang ia bergemuruh bagai gelombang, kadang ia melambai-lambai bagai riak-riak kecil.

Jangan sekali-kali meremehkan perasaan. Kata Syekh Ali At-Thanthawi. Sebab, manusia menjadi manusia dengan perasaannya. Ia adalah tempat persinggahan dua hal yang tersuci di dunia: iman dan cinta.

Di tengah hiruk pikuk modernisasi, ketika rasionalisme membunuh bayi-bayi romantika yang lahir dari rahim fitrah kita. Kata hukum-hukum positif membungkam semua celah dari mana semua suara nurani bisa terdengar, terkadang kita semua jadi bisu, dan bertandatanya dalam keraguan;

Masih adakah tempat bagi perasaan di dunia kita? Bahkan terkadang kita merasa begitu cengeng kepada penguasa rasionalitas kita?

Tapi, ketika saya membaca ungkapan Syekh Ali At-Thanthawi tadi yang ditulisnya tahun 40 an, saya tiba-tiba mendapatkan keberanian kembali.

Apakah yang membuat puisi-puisi Iqbal bagai mercusuar yang begitu kuat di tengah kegelapan rasionalitas kita? Apakah yang membuat kata-kata Sayid Qutb dalam Fi Zhilalil Qur’an begitu kuat mengehntak akal batin kita, dan menghidupkan kembali semangat pengembaraan nurani kita menuju tepian pantai dimana janji-janji Allah menanti kita?

Apakah yang membuat khotbah-khotbah Ibnul Jauzi mampu melunakan batu hati pemimpin yang zalim dijamannya dan memuncratkan air mata taubat dari batu hati itu, yang sebelumnya tak pernah meyakini kalau manusia itu mempunyai air mata dan bisa menangis?

Pikiran itu adalah benda gaib yang dimaterikan oleh kata. Tapi, materi kata adalah raga tanpa nafas kehidupan. Berceritalah kepadaku tentang Tuhan dengan materi kata rasionalisme barat atau logika Yunani.

Saya mungkin akan percaya pada keberadaan Tuhan. Tapi, jangan harap saya akan merendahkan diri untuk bersujud kepadaNya. Bukankah itu yang terjadi pada dunia manusia kini?

Ini, kita perlu membawa anak-anak pikiran kita pada taman perasaan kita. Biarkan ia bermain di sana. Biarkan ia tumbuh dan besar di sana. Karena hanya di sana ia bisa menjadikan gagasan-gagasan kita sebagai kenyataan.

Kembalikan anak-anak pikiranmu ke alam perasanmu. Biarkan ia mengalir dalam deras arusnya, hingga engkau tak dapat membedakan salah satu dari keduanya.

Saat ia kembali, engkau niscaya akan menemukan materi katamu telah bergerak dengan nafas kehendak yang tak terbendung. Engkau akan menemukan sebuah “logika” baru yang tercipta dari talikecapi nurani.

Logika nurani engaku dapat memetik talikecapi itu setiap saat. Dan setiap saat engkau akan dengarkan gema suara yang menggetarkan wujud, memabukan jiwa, menyihir akal, mengaburkan mata, sama seperti engkau meniupkan nafas cinta pada kuncup yang mekar jadi bunga.