OLEH ABU HAZIMAH AYU FADIA
Atau bencana tsunami di Nanggro Aceh Darussalam, yang menewaskan banyak nyawa. Musibah serupa juga pernah terjadi pada masa Nabi Nuh. Ketika itu banjir bandang begitu dahsyat hingga setinggi puncak gunung. Pertanyaannya, apakah perisitiwa ini menyadarkan kita untuk berbenah atau menganggap bahwa peristiwa yang kita temui merupakan kebetulan, tanpa ada campur tangan sang pencipta.
Fakta ini diperkuat dengan perkataan Allah SWT di dalam surat Al-A;raf ayat 101. “Negeri-negeri yang telah kami binasakan itu, kami ceritakan sebagian dari berita-beritanya kepadamu. Dan sungguh telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka mereka juga tidak beriman kepada apa yang dahulunya mereka telah mendustakannya. Demikianlah Allah mengunci mata hati orang-orang kafir”.
Masih banyak cerita-cerita kehidupan ini yang secara substansi sama dengan peristiwa masa lampau. Mulai dari cerita sebagian kaum nabi Luth yang melakukan percintaan dengan sesama jenis hingga pembunuhan anak laki-laki oleh Fira’un. Semua cerita dan kisah masa lalu itu hingga saat ini masih ada dan akan terus terjadi sampai kemudian Allah mematikan semua mahluk alias kiamat.
Lalu apa yang mesti kita tarik benang merahnya terhadap drama kehidupan ini. Menyadari diri bahwa hidup kita bukanlah sesuatu yang kebetulan, melainkan sesuatu yang sudah direncanakan oleh sang pencipta. Oleh karena itu, kita harus mendekap dan merayu Allah dengan shalat malam, puasa sunnah, berbuat kebaikan dan sabar.
Kesadaran inilah yang mesti kita miliki supaya alur kehidupan kita lebih berarti dan tidak terjebak pada orientasi duniawi belaka. Bekerja dan mencari maisyah (penghasilan) itu penting karena kita saat ini masih di alam dunia. Tapi, ingat ada terminal lain yang harus kita singgahi, seperti alam kubur dan padang ma’syar.
