Berhenti Sejenak

Jiwa ini menjadi “mati” seperti tidak berfungsi, sensitifitas hati pada nilai-nilai kemanusiaan menjadi kaku, batin kita pun bergemuruh seperti derasnya air terjun. Tak ada kenyamanan dan ketenangan dalam waktu hidup kita.

Jika kita mendapatkan kondisi seperti itu maka tak ada jalan lain kecuali kita berhenti sejenak. Yah, paling tidak kita istirahatkan hati dan jiwa ini untuk merenung sejenak hakikat kehidupan kita di dunia.

Jangan-jangan kita lupa bahwa ada kematian di ujung usia kita yang menanti. Kita lalai akan langkah kaki kita sejauhmana, apakah telah bergeser ke jalur yang sudah digariskan oleh Allah SWT, yaitu kebenaran dan keadilan, kejujuran dan keikhlasan, keberanian mengungkapkan kebenaran,

Rasanya, sulit bagi kita untuk mengetahui perasaan batin kita jika tidak berhenti sejenak. Berhenti untuk melihat jalan mana yang keliru sehingga kita bisa sampai ke jalan itu. Maklum, sebagai manusia kita memiliki musuh abadi yang akan selalu mengajak kepada keburukan, menjauhkan diri ini dari dekapan Allah SWT.

Badan, jiwa dan batin kita pun menjadi linglu seolah tak memiliki arah dan tujuan hidup. Terasa berat rasanya untuk sekadar mengingat kematian. Perasaan taku selalu menyelinap di sela-sela jantung kita.

Berhentilah sejenak, untuk sekadar mengingat perjalanan yang sudah kita lalui. Mengukur kadar keimanan kita dan kondisi jiwa yang mungkin bisa jadi rapuh dan ringkih seperti kayu yang tersambar petir. Tak ada daun yang tersisa hanya kerangka batang yang kulitnya terkelupas oleh sengatan panasnya dunia yang menggoda. Wallahu alam.